Sejarah Kubah Masjid

Sudah dari abad ketujuh masehi, seluruh masjid yang ada di berbagai penjuru dunia selalu menyertakan kubah sebagai elemen wajibnya. Bahkan kubah ini selalu diidentikkan sebagai ornamen khas Islam. Lalu, tahukah Anda sejarah kubah masjid?

Namun pada kenyataannya, kubah bukan berasal dari budaya Islam. Jauh sebelum kelahiran Islam, kubah merupakan arsitektur populer di wilayah Mediterania (laut tengah) yang dikelilingi Asia, Benua Eropa, dan Afrika. Ketahui sejarah kubah masjid berikut ini.

Sejarah Kubah Masjid, Dari Romawi Hingga ke Arab

Dome atau kubah berasal dari bahasa Latin, yakni domus yang artinya rumah. Sementara itu, nama kubah yang terkenal di Indonesia untuk menyebut bangunan dengan bentuk setengah lingkaran berasal dari bahasa Suriah, yakni qubba serta dipopulerkan di tanah Arab.

Kubah sendiri pertama kali dibangun oleh bangsa Romawi pada tahun 100 masehi. Sebelum itu, dalam membentuk sebuah ruang besar diperlukan tiang-tiang untuk penyangga atap yang besar juga.

Jumlahnya sangat banyak hingga cukup sulit untuk membuat ruang yang luas tanpa tersekat kolom-kolom. Kemudian bangsa Romawi pun menemukan teknik membuat kubah hingga menerapkannya dalam bangunan serta kuil agung mereka.

Adapun bangunan pertama yang menggunakan atap kubah beton yakni Pantheon yang berada di Roma, Italia. Ini dibuat tahun 126 Masehi sebagai kuil pemujaan Dewa Romawi dan berkembang hingga era kekaisaran Byzantium pada abad ke-4.

Dari konstruksi kubah tersebut, kemudian dibawa oleh orang-orang Romawi lalu dikembangkan secara langsung oleh para arsitek di zaman Byzantium. Teknik Pandetive lah salah satu teknik yang berhasil dibuat, yakni dengan menggabungkan beberapa kubah hingga mendapatkan hasil ruangan yang luas.

Kemudian tahun 1453, setelah Konstantinopel jatuh ke Kesultanan Islam Ottoman, Sultan Mehmed II, sampailah kubah ke tanah Arab. Sehingga di zaman ini banyak mayoritas gedung dibangun dengan mengadopsi teknik pendentive.

Dalam perkembangan arsitektur Islam sendiri, banyak dipengaruhi dari penaklukan Islam di kota-kota di bawah kekaisaran Byzantium (termasuk Syria dan Andalusia atau Spanyol).

Sebut saja bentuk bangunan masjid yang berada di wilayah kesultanan Ottoman, dan pada akhirnya banyak bangunan mengaplikasikan secara langsung menggunakan kubah.

Perkembangan Kubah Masjid

Jika kita berbicara seputar sejarah arsitektur Islam, tentunya tidak terlepas dari masa awal Islam lahir, yakni sekitar abad ke-7. Saat itu Nabi Muhammad SAW membuat beberapa masjid, diantaranya Masjidil Haram, Masjid Nabawi, serta Masjidil Aqsa.

Memang tidak ada yang bisa menggambarkan bentuk pasti dari masjid-masjid tersebut. Akan tetapi tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa bangunan yang dibuat Nabi Muhammad itu menggunakan kubah.

Bentuk awal dari Masjidil Haram yakni berupa bangunan sederhana berbentuk kotak. Begitupun dengan Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. 

Adapun bangunan masjid yang bisa kita lihat sekarang ini, yakni bangunan yang memiliki kubah itu merupakan masjid yang sudah mengalami renovasi dan beberapa pengembangan.

Terdapat catatan yang tertulis dalam sejarah bahwa Masjidil Haram pernah direnovasi pada tahun 1570. Desainnya sendiri dibuat oleh Manar Sinan dan mengganti atap datar dengan kubah berhias kaligrafi.

Seperti diketahui, Manar Sinan adalah seorang arsitek yang menjadi kebanggan Sultan Mehmed II dan sudah membangun banyak masjid terbaik. Sebut saja Masjid Suleymaniye tahun 1550.

Itulah sejarah panjang kubah yang sekarang ini lebih identik dengan ornamen Islami. Hingga saat ini sudah banyak inovasi yang hadir pada kubah masjid, mulai dari bentuk hingga bahan pembuatannya.

Intinya, kubah masjid pun akan terus berkembang seiring berjalannya zaman dan akan terus berkembang lagi tentunya.  Semoga informasi yang kami sampaikan kali ini menambah wawasan Anda.